Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Viral Dugaan Limbah SPPG Ambarawa Barat di Pringsewu, Warganet Ramai-ramai Soroti Pengelolaan Dapur MBG

Minggu, 14 Juni 2026 | Juni 14, 2026 WIB |


PRINGSEWU, WAJOTERKINI.COM – Dugaan dampak limbah dari operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambarawa Barat, Kabupaten Pringsewu, Lampung, menjadi perhatian publik setelah tayangan pemberitaan televisi mengenai persoalan tersebut beredar luas di media sosial.


Video pemberitaan tersebut diunggah ulang oleh akun Facebook Rawi Np sekitar 17 jam sebelum artikel ini ditulis. Unggahan yang hanya disertai tagar #viral dan #LagiLagiMbg itu menampilkan cuplikan tayangan Liputan 6 SCTV dengan judul berita "Limbah SPPG Ganggu Lingkungan".


Berdasarkan pantauan pada unggahan tersebut, video telah memperoleh sedikitnya 670 reaksi suka, 139 komentar, dan 69 kali dibagikan. Tingginya interaksi tersebut menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap isu pengelolaan limbah yang diduga berasal dari aktivitas dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Ramainya respons publik kemudian memunculkan beragam komentar dari pengguna media sosial. Sebagian besar meminta adanya pengawasan lebih ketat dari instansi terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sementara sebagian lainnya mendorong evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur SPPG yang menjadi sorotan.


Warganet Minta DLH Turun Langsung


Sejumlah pengguna Facebook meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu melakukan inspeksi langsung ke lapangan.


Akun Rudi Rudal menulis, "DLH turun langsung ke lapangan, sidak di setiap dapur SPPG."


Sementara akun Pappa Sodik meminta agar dugaan persoalan yang terjadi dapat dibuka secara transparan kepada masyarakat.


"Ungkap ketidakberesan ini, sebab itu sudah menyalahi SOP," tulisnya.


Gelombang Kritik terhadap Operasional Dapur MBG


Di kolom komentar, sejumlah warganet secara terbuka meminta agar operasional dapur dihentikan apabila terbukti menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.


Akun Miranda Miranda menulis, "Kalau rakyat sudah bilang tutup ya tutup, berarti sudah tidak nyaman lagi."


Komentar serupa disampaikan akun Rudi Masborneo yang menulis, "Tutup aja dapur MBG yang bikin resah dan tidak memenuhi standar nasional."


Akun Lis Bu'e Alkha menuliskan komentar singkat, "Tutup wae."


Sedangkan akun Umbara Bara menulis, "Setop dan bubarin aja MBG-nya."


Akun Arla Hafidzha bahkan menuliskan, "Bubarin aja program tak berguna."


Pendapat serupa disampaikan akun Alex Ajja yang menulis, "Hapus saja MBG, nggak ada manfaatnya."


Sementara akun Nurwahit Wahid berkomentar, "Bubarin aja udah nggak usah MBG-MBG-an."


Akun Emilia Emi menilai operasional dapur perlu dihentikan apabila benar-benar mengganggu masyarakat.


"Tutup aja kalau mengganggu masyarakat, bisa jadi sarang penyakit warga," tulisnya.


Komentar bernada kritik juga disampaikan akun Saputra Nafi yang mengaku prihatin karena program tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak serta ibu hamil dan menyusui.


"Paraah ni maah, tu kan buat makan anak bumil dan busui," tulisnya.


Akun Raja Tega Asegaf meminta operasional dapur dihentikan apabila tidak memenuhi standar yang berlaku.


"Tutup aja karena itu tidak masuk kategori standar," tulisnya.


Akun Hadi Kusuma menilai operasional dapur perlu dihentikan apabila berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat sekitar.


"Tutup ae marai penyakit," tulisnya.


Komentar serupa datang dari akun Bambang Irianto yang menulis singkat, "Tutup saja MBG-nya."


Sementara akun Ar Bain memberikan tanggapan singkat dengan menuliskan, "Program buh."


Soroti Kepatuhan terhadap SOP dan Dugaan Pengelolaan Limbah


Selain menyoroti dampak lingkungan, beberapa warganet juga mempertanyakan kepatuhan pengelola terhadap standar operasional prosedur (SOP).


Akun Dewi Andriyani menulis, "Tidak sesuai SOP karena yang punya dapur orang penting jadi ya aman jaya."


Sedangkan akun Sagang Nainggolan Nainggolan meminta adanya pemeriksaan lanjutan.


"Kalau dicek mungkin masih ada yang bermasalah," tulisnya.


Akun Made Sinta turut menyoroti efektivitas program dengan menulis, "Stop MBG, banyak makanan terbuang."


Sementara akun Rismaladewi Risma mempertanyakan kualitas menu yang disediakan dalam program tersebut.


Akun Nirwan Aprilia juga meminta adanya pengecekan terhadap dugaan pembuangan limbah ke aliran sungai.


"Limbah MBG Sukanegeri Pardasuka, kenapa dibuang di sungai, tolong dicek," tulisnya.


Di tengah perbincangan tersebut, akun Abinya Hanum turut memberikan komentar mengenai identitas pengelola dapur yang menjadi pembahasan dalam unggahan.


"Ini SPPG ne Haji Narto," tulisnya.


Sejumlah Warganet Mengaku Mengetahui Dampak Lingkungan


Di tengah perdebatan yang berkembang, beberapa pengguna media sosial mengaku mengetahui atau mengalami dampak yang diduga berkaitan dengan aktivitas dapur MBG.


Akun Dewi Mustika mengaku air sumurnya sempat mengeluarkan bau tidak sedap.


"Limbah masuk ke sumurku, airnya bau busuk. Alhamdulillah sekarang sudah ditangani, terima kasih," tulisnya.


Pengakuan lain datang dari akun Bang Bewox yang menyebut terdapat ikan yang mati di area empang sekitar lokasi.


"Di sini banyak ikan mati di empang," tulisnya.


Sementara akun Chandra Pratama mengaku mengetahui limbah dapur MBG mengalir ke saluran drainase di wilayah tempat tinggal orang tuanya.


"Oh ya, di desa saya juga limbah MBG mengalir di parit depan rumah orang tua saya. Kalau pas ngalir buang air kotornya itu bau," tulisnya.


Akun Aleks Siwanda Taxuux juga mengklaim adanya dugaan pembuangan limbah ke aliran sungai di wilayah lain.


"Tu di Adiluwih limbahnya dibuang di sungai," tulisnya.


Namun demikian, seluruh pernyataan tersebut merupakan klaim dan pendapat pribadi pengguna media sosial yang belum dapat diverifikasi secara independen.


Minta Pengawasan terhadap Dapur SPPG Lain


Perhatian publik tidak hanya tertuju pada SPPG Ambarawa Barat. Sejumlah warga juga meminta pemerintah melakukan pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG lain yang sedang dibangun maupun yang akan beroperasi.


Akun Nazri Syauti meminta DLH melakukan pemeriksaan terhadap pembangunan dapur SPPG di wilayah Pringsewu Utara.


"Izin Bapak dari DLH, di Kelurahan Pringsewu Utara Lingkungan 5 RT 3 ada pembangunan dapur SPPG. Mohon untuk dicek di lokasi apakah sudah terpenuhi SOP atau belum sebelum terlambat, mumpung belum mulai operasional," tulisnya.


Di tengah derasnya kritik yang muncul, terdapat pula komentar yang berharap persoalan tersebut dapat segera memperoleh penyelesaian.


Akun Endang Mifri menulis singkat, "Semoga segera ada solusi."


DLH Sudah Lakukan Pembinaan


Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu telah melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap pengelolaan limbah di SPPG Ambarawa Barat.


Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, DLH menemukan sejumlah catatan yang perlu segera ditindaklanjuti pengelola. Catatan tersebut antara lain belum tersedianya grease trap pada area pencucian, perlunya optimalisasi pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta peningkatan sistem pembuangan asap dapur agar tidak mengarah ke kawasan permukiman warga.


DLH juga meminta pengelola melakukan perbaikan sesuai rekomendasi yang telah diberikan. Evaluasi lanjutan akan dilakukan untuk memastikan seluruh catatan tersebut telah ditindaklanjuti.


Ramainya reaksi masyarakat di media sosial menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Masyarakat berharap program tersebut dapat berjalan sesuai tujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, sekaligus tetap memperhatikan aspek lingkungan, sanitasi, dan kenyamanan warga di sekitar lokasi operasional.


 (Davit )

×
Berita Terbaru Update