PRINGSEWU, WAJOTERKINI.COM – Proyek peningkatan ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Pringsewu dengan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. Namun, di balik proses pembangunan tersebut, masyarakat justru dihadapkan pada persoalan lain, yakni kepulan debu yang setiap hari mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan.
Kalau debu bisa ikut lelang proyek, mungkin saat ini statusnya sudah menjadi "subkontraktor". Sayangnya, yang benar-benar bekerja justru angin, yang setiap hari membagikan debu secara cuma-cuma kepada siapa saja yang melintas.
Like
https://youtube.com/shorts/NZzVVwuXtKw?si=Ot3Q5PMQe_S_lamY
Kondisi berdebu tersebut terjadi di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Pringsewu dengan Kalirejo, tepatnya mulai dari depan Polsek Sukoharjo hingga wilayah Podosari, Kabupaten Pringsewu. Di sepanjang ruas tersebut, pengguna jalan mengaku harus menghadapi kepulan debu yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Menurut keterangan warga, kondisi ini mulai dirasakan sejak proyek peningkatan jalan dan pembangunan talud dikerjakan.
Keluhan datang dari warga sekitar maupun para pengguna jalan. Mereka mengaku kondisi jalan selama pengerjaan proyek menjadi sangat berdebu. Menurut keterangan sejumlah warga, diduga penyiraman jalan untuk mengendalikan debu tidak pernah dilakukan oleh pihak kontraktor, sehingga material tanah yang berada di badan maupun bahu jalan dengan mudah beterbangan setiap kali dilintasi kendaraan.
Kondisi tersebut diperparah dengan adanya pekerjaan pembangunan talud. Material tanah hasil galian disebut masih banyak terhampar di sepanjang bahu jalan. Ketika cuaca panas dan arus lalu lintas meningkat, tanah tersebut berubah menjadi kepulan debu yang menutupi pandangan pengendara, terutama pengendara sepeda motor. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas karena jarak pandang dapat berkurang secara tiba-tiba saat kendaraan besar melintas.
Andi, warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek, mengatakan dirinya mendukung penuh pembangunan jalan tersebut. Namun menurutnya, pelaksanaan pekerjaan juga harus memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
"Semua warga tentu ingin jalannya bagus. Tapi selama pekerjaan berlangsung kami juga ingin tetap merasa aman. Debunya luar biasa, setiap hari masuk ke rumah, menempel di perabotan dan kendaraan. Yang paling kami khawatirkan pengendara motor. Saat truk lewat, debunya langsung menutup pandangan. Kami berharap kontraktor segera mengambil langkah penanganan dengan melakukan penyiraman jalan agar kondisi ini tidak terus berlarut dan tidak membahayakan pengguna jalan," ujar Andi.
Hal senada disampaikan Yusuf, salah seorang pengendara yang hampir setiap hari melintasi ruas jalan tersebut.
"Hampir setiap hari saya melintas di sini. Kalau cuaca panas, begitu ada truk atau kendaraan besar lewat, debunya langsung mengepul tebal sampai motor di depan kadang hilang dari pandangan. Kami terpaksa memperlambat laju kendaraan karena takut terjadi kecelakaan. Pembangunan jalan tentu kami dukung, tetapi pelaksanaannya juga harus memperhatikan keselamatan masyarakat yang menggunakan jalan setiap hari," kata Yusuf.
Sejumlah warga berharap pihak kontraktor bersama instansi terkait segera mengambil langkah penanganan dengan melakukan penyiraman jalan secara berkala, membersihkan material tanah yang berserakan di bahu jalan, serta memastikan pekerjaan proyek dilaksanakan sesuai standar agar tidak membahayakan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur memang menjadi kebutuhan masyarakat. Namun, pekerjaan yang baik bukan hanya diukur dari hasil akhir ketika jalan selesai dibangun, melainkan juga dari bagaimana proses pengerjaannya tetap memperhatikan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat. Sebab, jalan yang sedang dibangun semestinya menghadirkan harapan baru, bukan membuat pengguna jalan harus "mandi debu" setiap kali melintas. ( Davit )
