PRINGSEWU, WAJOTERKINI.COM – Keluhan warga terkait asap dan aroma yang diduga berasal dari aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambarawa Barat, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, masih berlanjut meski sebelumnya telah dilakukan pembinaan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu.
Perkembangan terbaru persoalan tersebut terungkap melalui video mediasi berdurasi 6 menit 59 detik yang beredar melalui akun TikTok SPPG Ambarawa Barat. Dalam video tersebut terlihat pihak pengelola SPPG, Kepala Pekon Ambarawa Barat Suranto, dan seorang warga yang sebelumnya menyampaikan keluhan duduk bersama untuk membahas solusi atas persoalan yang terjadi.
Mediasi berlangsung di rumah warga yang terdampak dan difasilitasi langsung oleh Pemerintah Pekon Ambarawa Barat.
Sebelumnya, persoalan bau dan asap dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu sempat menjadi perhatian publik setelah dikeluhkan warga sekitar. Menindaklanjuti laporan tersebut, DLH Kabupaten Pringsewu melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap pengelolaan limbah di SPPG Ambarawa Barat.
Dari hasil pemeriksaan lapangan, DLH menemukan sejumlah catatan yang perlu segera dibenahi oleh pengelola. Temuan tersebut antara lain belum tersedianya grease trap pada area pencucian, pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum optimal, serta sistem pembuangan asap dapur yang masih mengarah ke kawasan permukiman warga.
Atas temuan itu, DLH meminta pengelola melakukan sejumlah langkah perbaikan, termasuk optimalisasi IPAL, pemasangan grease trap, serta penyesuaian sistem cerobong asap agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitar.
Namun, berdasarkan video mediasi yang beredar, warga menilai langkah perbaikan yang dilakukan hingga saat ini masih belum sepenuhnya mengatasi persoalan yang dikeluhkan.
Dalam video tersebut, Kepala Pekon Ambarawa Barat Suranto menjelaskan bahwa pihak SPPG sebenarnya telah melakukan perubahan terhadap sistem pembuangan asap. Akan tetapi, berdasarkan aspirasi yang disampaikan warga, hasil perbaikan tersebut dinilai masih belum sesuai harapan.
"Terkait pemasangan itu kira-kira sudah ada perubahan atau belum. Sebenarnya bagi beliau itu belum pas. Mintanya agar lebih tinggi lagi kemudian diberi semacam penutup di bagian atas," kata Suranto sebagaimana terekam dalam video mediasi yang beredar.
Menurut Suranto, warga berharap cerobong asap dibuat lebih tinggi sehingga asap hasil aktivitas memasak tidak lagi mengarah ke rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar lokasi dapur.
Dalam kesempatan yang sama, pihak pengelola SPPG menyampaikan permohonan maaf kepada warga apabila aktivitas dapur selama ini menimbulkan ketidaknyamanan.
Pengelola mengakui langkah yang telah dilakukan kemungkinan masih belum maksimal dan berjanji akan kembali melakukan penyempurnaan terhadap sistem pembuangan asap.
"Mengenai yang kurang maksimal akan segera kami tindak lanjuti kembali. Kalau memang kurang panjang nanti akan kami pesankan satu lagi cerobong yang lebih panjang," ujar perwakilan SPPG dalam video tersebut.
Pihak pengelola juga meminta warga bersabar karena penambahan cerobong membutuhkan proses pemesanan dan pengiriman peralatan.
"Kami mohon bersabar karena pemesanan peralatan seperti itu tidak ujug-ujug langsung ada. Kami juga butuh waktu untuk pengiriman ke sini. Paling tidak sekitar dua sampai tiga hari. Dengan adanya satu cerobong lagi yang akan dibuat, mudah-mudahan bisa mengurangi," katanya.
Dalam mediasi tersebut, Suranto juga mengingatkan pentingnya komunikasi antara masyarakat dan pemerintah pekon apabila terdapat persoalan yang muncul di lingkungan.
Ia meminta warga menyampaikan setiap keluhan melalui ketua RT, perangkat pekon maupun pemerintah pekon sehingga persoalan dapat diketahui lebih awal dan segera dicarikan solusi bersama.
Menurut Suranto, komunikasi yang baik menjadi langkah penting untuk menghindari kesalahpahaman maupun miskomunikasi antara masyarakat dan pihak terkait.
Video yang beredar juga memperlihatkan pihak pengelola SPPG bersama Kepala Pekon Ambarawa Barat mendatangi langsung rumah warga yang sebelumnya menyampaikan keluhan terkait asap dapur MBG. Pertemuan berlangsung secara dialogis dengan fokus pembahasan pada langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan ke depan.
Sementara itu, berdasarkan keterangan narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya, persoalan yang terjadi di SPPG Ambarawa Barat turut menjadi perhatian setelah pemberitaan mengenai keluhan warga muncul di sejumlah media, termasuk TVRI Lampung dan SCTV.
Menurut sumber tersebut, selain DLH Kabupaten Pringsewu, unsur kecamatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, serta pihak terkait lainnya juga telah melakukan peninjauan ke lokasi guna memastikan operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Peninjauan tersebut tidak hanya difokuskan pada penyelesaian keluhan yang terjadi di SPPG Ambarawa Barat, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi SPPG lainnya agar lebih memperhatikan aspek sanitasi, kesehatan lingkungan, pengelolaan limbah, dan hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.
"Ini menjadi pembelajaran bersama sehingga seluruh SPPG dapat lebih memperhatikan pengelolaan lingkungan, sanitasi, dan komunikasi dengan masyarakat sekitar apabila muncul persoalan di lapangan," ujar sumber tersebut.
Meski sejumlah langkah perbaikan telah dilakukan dan proses mediasi telah berlangsung, berbagai pihak menilai hasil yang diharapkan masyarakat masih memerlukan tindak lanjut yang lebih optimal. Hal itu terlihat dari masih adanya pembahasan mengenai kebutuhan penambahan cerobong asap dalam mediasi yang dilakukan antara warga, pemerintah pekon, dan pihak pengelola SPPG.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rekomendasi yang sebelumnya diberikan DLH Kabupaten Pringsewu masih dalam tahap pelaksanaan dan belum sepenuhnya memberikan hasil sesuai harapan warga. Oleh karena itu, sikap kooperatif, keterbukaan, dan tanggung jawab pengelola dalam menindaklanjuti setiap rekomendasi teknis maupun masukan masyarakat menjadi faktor penting dalam penyelesaian persoalan tersebut.
Implementasi perbaikan secara nyata dan berkelanjutan diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan keluhan yang terjadi saat ini, tetapi juga menjadi contoh tata kelola lingkungan yang baik bagi operasional SPPG lainnya.
Perkembangan tindak lanjut atas berbagai rekomendasi yang telah diberikan instansi terkait akan terus menjadi perhatian publik. Wartawan akan terus memantau perkembangan di lapangan guna memastikan setiap komitmen perbaikan yang telah disampaikan benar-benar direalisasikan, sehingga operasional Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan sesuai standar kesehatan lingkungan, tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar, serta menjadi contoh praktik pengelolaan yang responsif, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik.
( Davit )
